Kelesuan budidaya maskoki tidak terjadi di desa Bangoan saja, di desa Boyolangu yang terdapat lebih banyak petani maskoki pun mengalami hal serupa. maskoki tidak lagi menjadi budidaya utama, bahkan yang lebih miris adalah semakin banyak dijumpai kolam-kolam budidaya maskoki di Tulungagung yang dibiarkan terbengkalai.
Meskipun demikian Tulungagung tetap dikenal sebagai sentra maskoki berkualitas di Indonesia, ini tentu saja tak lepas dari peran para pembudidaya seperti Bp. Sayuti yang masih terus berusaha mengembangkan maskoki.
Beliau menuturkan, meskipun bisnis maskoki tak lagi seramai dulu, tetap masih saja ada tamu dari luar kota yang bertandang ke farm miliknya, beberapa hari lalu beliau kedatangan tamu dari Jakarta yang langsung memborong beberapa ekor Ranchu seharga 350 ribu rupiah per ekor.
Kemudian saya bertandang ke farm lain yang juga terkenal di desa Bangoan, farm milik Bp. Sukri ini dikenal sebagai breeder Ranchu yang handal. Beliau satu angkatan dengan Bp. Sayuti yang memulai budidaya maskoki sejak tahun 1975. Lebih lama 5 tahun jika dibandingkan umur saya!.
Kami berbincang sebentar soal maskoki yang melesu di Tulungagung, beliau juga membenarkan akan hal itu. Meskipun terkadang pernah juga tamu dari Jakarta dan Semarang yang mendatangi farmnya dan membeli beberapa ekor Ranchu Jumbo miliknya.
Saya mengamati kolam-kolam miliknya yang memang dikhususkan untuk budidaya Ranchu, sebagian besar adalah baby Ranchu berukuran 5cm - 10cm, sementara ada satu kolam khusus berisi Ranchu betina jumbo. Baby Ranchu atau beliau menyebutnya "Bakalan" adalah hasil pemijahan sendiri, Beliau mengakui membiakkan Ranchu lebih menguntungkan dibanding maskoki jenis lain, sebagai perbandingan harga seekor bibit Ranchu umur 3 minggu adalah 400 rupiah sedangkan mutiara tikus dengan umur yang sama dihargai 80 rupiah.
Setelah Bibit Ranchu berusia 2 bulan, tiba waktu disortir untuk memilih Ranchu berkualitas, hanya sebagian kecil saja yang berhasil lolos, selebihnya beliau "buang" ke pengepul Ranchu "BS"
Ranchu berusia 2 bulan yang lolos seleksi inilah yang beliau sebut sebagai "Bakalan", jika ada yang berminat, beliau mematok harga 7 ribu - 50 ribu rupiah, tergantung kesempurnaan si Ranchu. Saat saya mengobok-obok kolam Ranchu bakalan, memang ada beberapa Ranchu kualitas kontes (ini menurut penilaian saya yang masih pemula berdasarkan buku panduan memilih Ranchu kontes
Meskipun Bp. Sukri dikenal sebagai breeder Ranchu handal, tetap saja beliau tidak bisa mengandalkan sepenuhnya sebagai sumber pendapatan utama, Bp. Sukri juga beternak Kambing sebagai penambah penghasilan.
Berdasarkan perbincangan dengan kedua sesepuh breeder maskoki Tulungagung ini, ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan, yaitu: Seperti umumnya petani tradisional di Indonesia, mereka terkendala oleh strategi pemasaran sebatas jual-beli konvensional. Para breeder maskoki tradisional umumnya belum mengenal teknologi informasi seperti Surel (email) atau transaksi online melalui website e-commerce seperti yang telah dilakukan senior breeder maskoki modern.
Seandainya saja mereka mengenal forum seperti ini dan mempromosikan maskoki andalan mereka, saya berani jamin pasti banyak rekan-rekan member yang kepincut
Lalu apakah memang benar bisnis maskoki sedang melesu seperti yang mereka rasakan? ataukah trend maskoki tetap marak, hanya saja mereka tidak mengenal teknologi informasi dan tergusur oleh maskoki impor?
Bagaimana pendapat rekan-rekan sekalian?
Sharing ini ditulis oleh: Joko Suwono (jokosuwono@gmail.com)
